19 Bandar Besar Narkoba di Malut Masuk DPO Ditresnarkoba

poldamalut.com – Polda Maluku Utara, Kepolisian Daerah Maluku Utara melalui Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) terhitung sejak Januari hingga Desember 2017 kemarin, telah menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) kepada 19 orang yang terseret dalam kasus narkoba.

Dari 19 DPO yang dikeluarkan Ditresnarkoba Polda Malut tersebut, satu diantaranya merupakan oknum anggota Polri yang bertugas di Polres Ternate yakni Muhammad Hais alias Ais yang berdomisili di Kelurahan Kampung Makassar Timur, Kecamatan Kota Ternate Tengah.

Ais yang merupakan oknum anggota Polri tersebut ditetapkan sebagai DPO berdasarkan Nomor: DPO/15/VIII/2017/ Ditresnarkoba dengan Laporan Polisi: LP/28/VIII/2017/Malut/SPKT, tertanggal 02 Agustus 2017, dengan pasal 112 ayat (1) dan pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkoba.

Selain Ais, DPO yang yang dikeluarkan itu juga terdapat beberapa bandar besar kasus Narkoba golongan satu jenis ganja maupun narkotika golongan satu berjenis sabu, masing-masing, Ade Wijaya alias Canox dengan Nomor: DPO/12/VIII/2017/Ditresnarkoba, sesuai LP yang diterima pada tanggal, 05 Juli 2017, Riky Perasa dengan Nomor: DPO/07/IV/2017/Ditresnarkoba dengan LP tertanggal 08 April 2017, Iman dengan Nomor: DPO/04/II/2017/Ditresnarkoba dengan LP tertanggal 1 Februari 2017, dan Tersangka Iki dengan Nomor: DPO/11/VI/2017/Ditresnarkoba dengan LP tertanggal 2 Juni 2017 serta salah satu wanita yang juga masuk sebagai bandar besar narkoba yang berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel) yakni Dinda, Nomor: DPO/02/I/2017/Ditresnarkoba dengan LP tertanggal 3 Januari 2017.

Direktur Reserse Narkoba (Dirrsnarkoba) Polda Malut, Kombes Pol. Mirzal Alwi saat dikonfirmasi, Rabu (10/1/2018) mengatakan, DPO terhadap 19 orang kasus narkoba yang dikeluarkan selama tahun 2017 tersebut merupakan DPO dari Polda Malut dan belum terhitung dengan Polres jajaran di wilayah hukum Polda Malut.

“DPO yang kita terbitkan selama 2017 itu sudah kita sebarkan di seluruh polres dan polsek yang ada di Malut sehingga bisa di tindaklanjuti sebagaimana mestinya,” ungkap Kombes Pol Mirzal Alwi.

Dir Resnarkoba menambahkan, kasus narkoba yang ditangani selama tahun 2017 di wilayah Malut tersebut, paling banyak yakni narkoba jenis ganja dan sabu.

“Kalau untuk ganja biasanya dipasok dari Provinsi Papua, sementara untuk sabu biasanya di pasok dari Jakarta dan Makassar,” akunya.

Menurut Dir Resnarkoba, untuk modus yang dipakai para pelaku dalam memasukan narkoba di wilayah Malut dengan berbagai macam modus, baik melalui jasa pengiriman maupun dibawah langsung oleh para pelaku.

“Rata-rata kalau ganja dari Papua itu mereka bawa langsung menggunakan kapal dengan berbagai cara untuk mengelebui petugas,” katanya.

Meski pengungkapan kasus narkoba di tahun 2017 ini meningkat kurang lebih 21 persen dari tahun 2016 lalu, namun pihaknya berjanji akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk melakukan pemberantasan narkoba secara merata di seluruh kalangan sehingga kasus narkoba di wilayah Malut bisa menurun dan bahkan bisa di tekan habis.

“Kita akan tetap bekerja, makanya saya himbau masyarakat untuk membantu kita untuk bisa memberantas habis narkoba,” pungkasnya.

Penulis : Jusman

Publish : Yudhy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *